2013-04-27

Pilot: Peraturan Keselamatan Telah Dilanggar oleh Lion Air

Lion Air 737-900ER

(28/4/2013) Para pilot berbicara tentang catatan keselamatan maskapai penerbangan Lion Air dan sejumlah aturan perusahaan yang dikhawatirkan akan menyebabkan lebih banyak lagi kecelakaan.

Pilot di maskapai penerbangan terbesar di Indonesia sekaligus salah satu maskapai dengan pertumbuhan tercepat di dunia ini sangat prihatin dengan catatan keselamatan perusahaan.

Seorang mantan pilot Lion Air mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sejumlah peraturan keselamatan penerbangan telah dilanggar perusahaan, kebanyakan merupakan pelanggaran terhadap jam terbang pilot yang melebihi batas.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, pilot yang tidak disebutkan namanya tersebut mengatakan bahwa manajemen Lion Air sering kali menekan mereka untuk melanggar jam terbang sehingga melebihi batas sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan.

Masih menurut sumber yang sama, kelebihan jam terbang bisa membuat pilot lelah dan tidak memperhatikan hal-hal kecil secara detil. Ini bisa menjadi penyebab masalah yang berujung pada insiden maupun kecelakaan. Bahkan pilot pun merasa tidak aman saat terbang.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah melarang terbang 33 pilot Lion Air dalam tiga tahun terakhir karena melebihi jam terbang yang seharusnya. Tapi, pemerintah tidak memberikan sanksi kepada Lion Air.

Sementara itu, pengamat industri penerbangan, Alvin Lie, mengatakan bahwa tingkat keselamatan Lion Air merupakan yang paling buruk di Indonesia karena sudah sering terjadi insiden maupun kecelakaan. Akan tetapi, Lion Air tidak mendapatkan sanksi apa-apa.

Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti, mengatakan instansinya mengecek jam terbang pilot berdasarkan daftar gaji. Jika pada daftar gaji pilot terjadi kelebihan jam terbang, maka instansinya akan memberi sanksi kepada pilot.

Meskipun demikian, manajemen Lion Air tidak menanggapi dugaan tersebut.

Hingga kini masih belum jelas bagaimana Lion Air memenuhi kebutuhan pilot yang cukup besar, sementara Boeing dan Airbus akan terus mengirimkan ratusan pesawat yang telah dipesan kepada maskapai milik Rusdi Kirana ini. Para pilot merasa khawatir akan semakin banyak lagi pelanggaran yang dilakukan manajemen dan berujung pada lebih banyak lagi insiden maupun kecelakaan.

Pada 13 April lalu sebuah pesawat Boeing 737-800 Lion Air yang baru berumur dua bulan jatuh sebelum mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Seluruh penumpang dan awak pesawat yang berjumlah 108 orang selamat pada kecelakaan ini.